![]() |
| Wakil Menteri Luar Negeri RI, H. Muhammad Anis Matta, Lc., saat memberikan orasi ilmiah pada Muktamar V Wahdah Islamiyah |
KLIKBACA.ID, JAKARTA -- Eskalasi konflik global yang melanda berbagai belahan dunia saat ini menandai masuknya era baru, yakni Perang Dunia Ketiga dalam format hibrida. Penilaian geopolitik tersebut disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri RI, H. Muhammad Anis Matta, Lc., saat memberikan orasi ilmiah pada Muktamar V Wahdah Islamiyah di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Jumat (21/8/2026).
Anis menjelaskan bahwa perebutan supremasi antara kekuatan adidaya lama dan penantang baru tidak lagi berlangsung lewat konfrontasi militer langsung, melainkan melalui perang hibrida. Peta konflik modern ini setidaknya ditandai oleh empat karakteristik utama. Pertama, perang bersifat hibrida dan komprehensif karena memanfaatkan seluruh instrumen non-militer mulai dari siber, teknologi, tekanan ekonomi, hingga penguasaan geografi strategis seperti yang terjadi di Selat Hormuz.
Karakteristik kedua adalah durasinya yang dirancang berlarut-larut dengan tujuan menguras seluruh sumber daya lawan hingga runtuh dengan sendirinya. Ciri ketiga terlihat dari eskalasi yang dinaikkan secara bertahap namun konsisten, ditandai dengan aksi borong alutsista secara masif oleh berbagai negara di tengah melesunya pendapatan global. Adapun ciri keempat adalah dampak regionalnya yang meluas, di mana krisis di teater konflik Eropa maupun Timur Tengah secara otomatis menyeret ketahanan pangan, energi, dan rantai pasok logistik kawasan Asia.
Di tengah gelombang ketidakpastian dan hawa perang yang mengancam stabilitas dunia tersebut, Anis menegaskan arah strategi dan posisi geopolitik Indonesia. Menurutnya, tantangan terbesar bagi pemerintah di seluruh dunia saat ini adalah menjaga ketahanan domestik dari krisis ekonomi berlarut yang diakibatkan oleh dinamika eksternal yang tidak bisa dikendalikan.
Strategi kunci Indonesia adalah membentengi stabilitas politik dan sosial dalam negeri agar tidak terseret dalam polarisasi atau konflik antarblok kekuatan dunia. Dengan menjaga iklim dalam negeri tetap tenang, aman, dan kondusif, Indonesia berpeluang memosisikan diri sebagai safe haven—sebuah oase yang aman bagi arus investasi, modal, dan peluang ekonomi internasional yang sedang mencari titik perlindungan dari guncangan krisis global. (**)
