![]() |
| Kadisdik Sinjai, Irwan Suaib menjadi narasumber dalam forum Berbagi Praktik Baik yang diselenggarakan Kemendes PDT secara virtual. |
KLIKBACA.ID, SINJAI – Upaya Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, dalam menangani Anak Tidak Sekolah (ATS) mendapat perhatian Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT).
Berbagai inovasi yang dikembangkan Dinas Pendidikan Kabupaten Sinjai menjadi sorotan dalam forum Berbagi Praktik Baik Penanganan ATS yang digelar secara virtual, Rabu, (28/10/2026).
Dalam forum tersebut, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Sinjai, Irwan Suaib, hadir sebagai narasumber untuk memaparkan strategi dan terobosan daerahnya dalam menekan angka anak tidak sekolah sekaligus mencegah anak-anak kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan.
Bukan sekadar melakukan pendataan, Pemerintah Kabupaten Sinjai berupaya menghadirkan pendekatan yang lebih menyeluruh, mulai dari mengidentifikasi anak yang tidak bersekolah, mengupayakan mereka kembali ke bangku pendidikan, hingga mencegah anak yang masih bersekolah agar tidak putus di tengah jalan.
Salah satu langkah yang dikembangkan ialah aplikasi pendataan ATS Tassikolasi, yang telah dibangun sejak 2023. Aplikasi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pendataan agar penanganan anak tidak sekolah dapat dilakukan secara lebih terarah.
Tak berhenti di situ, Sinjai juga menghadirkan Program Orang Tua Angkat, Tutor Angkat, dan Balibolae sebagai bagian dari berbagai upaya intervensi penanganan ATS.
Sementara itu, untuk mencegah anak-anak yang berisiko putus sekolah, Dinas Pendidikan Sinjai mengembangkan dua inovasi lainnya, yakni SIGAP ORTU dan Sahabat Rangkul.
Kelima inovasi tersebut mencerminkan pendekatan penanganan yang tidak hanya berfokus pada persoalan administrasi, tetapi juga pada upaya menjangkau anak-anak yang membutuhkan perhatian dan dukungan agar tetap memperoleh akses pendidikan.
“Kami terus berupaya menghadirkan berbagai inovasi yang tidak hanya berorientasi pada pendataan, tetapi juga memastikan adanya langkah intervensi nyata agar setiap anak memperoleh hak dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan,” ungkap Irwan Suaib.
Bagi Irwan, keberhasilan penanganan anak tidak sekolah tidak cukup diukur dari penurunan angka statistik. Hal yang jauh lebih penting adalah memastikan setiap anak memiliki kesempatan untuk belajar dan meraih masa depan.
Anak yang telanjur putus sekolah perlu dirangkul kembali, sedangkan anak yang berpotensi meninggalkan bangku pendidikan harus mendapatkan perhatian sejak dini.
"Anak yang sudah putus sekolah harus kita rangkul kembali, sementara anak yang berisiko putus sekolah harus kita cegah sejak dini. Karena itu, kolaborasi dan inovasi menjadi kunci utama dalam menghadirkan solusi yang berkelanjutan,” tegasnya.
Pendekatan tersebut menempatkan pencegahan dan penanganan sebagai dua langkah yang saling melengkapi. Dengan demikian, upaya mengatasi ATS tidak hanya menyasar anak yang sudah kehilangan akses pendidikan, tetapi juga berusaha mencegah munculnya kasus serupa.
Irwan juga menekankan bahwa persoalan anak tidak sekolah tidak dapat diselesaikan oleh Dinas Pendidikan semata. Diperlukan sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, satuan pendidikan, dan seluruh elemen masyarakat.
Kolaborasi lintas sektor dinilai penting agar anak-anak yang membutuhkan pendampingan dapat dijangkau dan memperoleh penanganan sesuai kebutuhan mereka.
Melalui forum berbagi praktik baik bersama Kemendes PDT, Dinas Pendidikan Kabupaten Sinjai berharap berbagai inovasi yang telah dikembangkan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dalam menangani persoalan ATS.
Langkah ini sekaligus mempertegas komitmen Pemerintah Kabupaten Sinjai untuk memperluas akses pendidikan, menekan angka putus sekolah, serta memastikan setiap anak memperoleh layanan pendidikan yang layak dan berkeadilan.
Sebab, di balik setiap angka anak tidak sekolah, ada kesempatan belajar yang perlu diperjuangkan. Dan bagi Sinjai, memastikan anak-anak kembali belajar bukan sekadar program, melainkan bagian dari upaya menjaga masa depan generasi penerus. (Adv).
